Awal Berita Berita Budaya Sunda

Berita Budaya Sunda

Bagian ini memuat berita-berita mengenai Budaya Sunda secara umum.

 

Tari Merak dari Jawa Barat

Rabu, 27 Februari 2013 15:05


Pernah melihat tarian seperti gambar di sebelah kiri? Mungkin dapat kita lihat apabila sedang ada acara hajatan atau peresmian suatu acara. Tarian ini ditampilkan bersama dengan upacara adat Sunda,ya tentu saja sudah dan mudah dikenali yaitu tari merak (peacock dance).

Tari Merak merupakan tarian kreasi baru yang diciptakan oleh seorang koreografer bernama Raden Tjetjep Somantri pada tahun 1950an, dan tahun 1965 dibuat koreografi barunya oleh Dra. Irawati Durban Arjon dan direvisi kembali pada tahun 1985 dan diajarkan kepada Romanita Santoso pada tahun 1993.


 


Tari Merak sebenarnya menggambarkan tentang tingkah laku burung merak jantan yang memiliki keindahan bulu ekor sehingga banyak orang yang salah memperkirakan bahwa tarian ini tentang tingkah laku merak betina. Seperti burung-burung lainnya, burung merak jantan akan berlomba-lomba menampilkan keindahan ekornya untuk menarik hati merak betina.

Merak jantan yang pesolek akan melenggang dengan bangga mempertontonkan keindahan bulu ekornya yang panjang dan berwarna-warni untuk mencari pasangannya, dengan gayanya yang anggun dan memesona. Tingkah laku burung merak inilah yang divisualisasikan menjadi tarian merak yang menggambarkan keceriaan dan keanggunan gerak. Pesona bulu ekornya yang berwarna-warni diimplementasikan dalam kostum yang indah dengan sayap yang seluruhnya dihiasi payet, dan hiasan kepala (mahkota) yang disebut “siger” dengan hiasan berbentuk kepala burung merak yang akan bergoyang mengikuti gerakan kepala sang penari.

 

Tarian merak ini identik dengan warna yang sangat mencolok seperti merah, biru, kuning, emas, dan warna lainnya. Make up yang terlihat sangat tajam,karena memang merak sendiri merupakan burung yang sangat cantik dan indah. Tarian merak ini biasanya ditampilkan sebagai bentuk persembahan kepada tamu,karena memang setiap gerakannya sangat indah. Tarian merak ini biasanya ditarikan oleh 2 orang penari bahkan lebih.

Warna-warna merak ini bisa dilihat dari warna asli burung merak.


Sekarang mari kita mengenal sedikit tentang pakaian merak :

Perlengkapan busana bagian kepala ini terbuat dari bahan kulit sapi muda atau kulit kerbau pada busana tari merak tradisional. Karena sulit serta cukup mahal harganya, perupa memilih bahan yang ekonomis dan mudah didapatkan dengan menggunakan bahan fiber. Berikut ini bagian-bagian perlengkapan busana tari merak bagian kepala:

    • Siger atau lebih dikenal dengan sebutan “mahkota”

     

    Siger adalah hiasan yang selalu dipakai diatas kepala,siger ini diikatkan di kepala. Dengan banyaknya payet berwarna-warni menghiasi siger ini membuat penari merak semakin terlihat indah. Biasanya warna payet yang digunakan merupakan warna dominan dari baju tari merak

    • Susumping untuk bagian telinga penari merak



    Susumping adalah bagian hiasan kepala penari merak. Digunakan di kedua bagian telinga. Bentuknya pun mirip dengan telinga, dihiasi payet-payet berwarna-warni.

      • Garuda mungkur


      Hiasan yang dipakai di belakang sanggul rambut penari merak ini disebut sebagai Garuda Mungkur. Berbentuk burung merak jantan yang sedang memperlihatkan keindahannya, biasanya pada saat musim kawin burung merak jantan menggoda betinanya dengan cara melebarkan ekornya yang indah. Gambar hiasan sanggul ini terlihat burung merak dari arah depan.

        • Penutup dada



        Penutup dada pada baju merak biasanya merupakan kain yang berbentuk seperti kemben, ada yang menggunakan tali di bagian pundak, ada juga yang tidak ada talinya. Penutup dada ini digunakan untuk menutupi bagian dada atas hingga bagian pinggang. Bisa hanya dikaitkan saja atau memakai penitih. Tentu saja penutup dada baju merak ini dihiasi dengan payet-payet warna-warni.

          • Apok



          Mungkin namanya agak asing ditelinga kita,namun apok adalah bagian dari kostum merak. Apok adalah bagian penutup bagian dada atas dan leher. Ada yang direkatkan ada juga yang harus memakai penitih. Apok juga ada yang menyatu dengan bagian sayap ada juga yang terpisah. Warnanya tentu senada dengan warna kostum merak yang tengah dipakai,tak lepas payet menghiasi bagian apok ini. Bentuk dari apok juga beraneka ragam, tergantung dari kreasi pembuat kostum merak ini.

                  • Sayap


                  Sayap merak tentu saja bagian yang penting dalam kostum merak. Sayap merak ini merupakan bagian yang menjadi ciri khas dari kostum tari merak. Biasanya terbuat dari bahan yang tipis dihias dengan payet berwarna-warni. Ada yang memakai bulu-bulu di bagian bawah sayap ada juga yang biasa hanya memakai pita.

                    • Sabuk


                    Sabuk merupakan bagian kostum merak yang berbentuk seperti ikat pinggang. Bahannya terbuat dari kain agak keras. Dihiasi dengan payet berwarna-warni. Selain sebagai hiasan di bagian pinggang, sabuk ini juga untuk menutupi bagian sampur.

                      • Sampur merak


                      Sampur merak terbuat dari kain tissue atau bahan yang tipis. Dihiasi dengan payet berbentuk  bulu merak. Ada payet warna-warni dengan benang emas ataupun perak. Di kedua ujung sampur biasanya memakai hiasan rumbai-rumbai. Pada umumnya digunakan di bagian pinggang tertutup oleh sabuk.

                      • Rok


                      Rok pada kostum merak dipakai sebagai busana bagian bawah pada tari merak. Terdapat hiasan motif-motif bulu merak secara utuh disusun dengan posisi vertikal yang diperjelas dengan bordiran benang emas berbagai warna seperti warna kuning emas, pink, biru muda, biru tua serta hijau. Sekarang ini untuk bagian rok ada yang hanya kain biasa seperti samping, ada juga yang sudah seperti rok.

                      • Gelang

                       

                      Gelang pada umumnya digunakan di tangan. Gelang didalam kostum merak berhiaskan payet-payet berwarna-warni selaras dengan warna kostum merak yang paling dominan.

                      • Kilat bahu

                      Kilat bahu atau mungkin bisa dikatakan seperti gelang yang diikat di bahu kedua tangan. Kilat bahu ini berhiaskan payet beraneka warna dengan bentuk yang lebih mirip ke garuda mungkur. Jika garuda mungkur dipasang dirambut dengan menggunakan jepit.

                      Gerakan yang ada di tarian merak antara lain gerakan terbang yaitu ketika penari merak berputar dengan mengepakan kedua sayapnya. Ada juga ukel, kepat rineka,nyawang,kokoreh,hormat,dan pada jaman sekarang ini tentu saja dapat ditambah kreasi baru dari gerakan lama asal tidak merubah gerakan lama dan tetap memelihara gerakan lama.


                      Tarian merak ini memang sudah banyak dimodifikasi dengan tambahan berbagai gerakan,namun tetap saja tarian merak yang merupakan ciri khas Jawa Barat ini jangan sampai hilang. Dengan melihat tarian merak ini,kita dapat kembali mengucapkan syukur kepada Tuhan,karena begitu kaya negri kita akan budaya. Tarian merak ini dapat dilihat di www.mekarasih.org. Hayu atuh urang ngajaga seni daerah..


                      Sumber-sumber:


                      http://www.disparbud.jabarprov.go.id

                      http://qodel.blogspot.com

                      http://foto.detik.com/readfoto/2011/03/31/185941/1606067/501/2/

                      www.mekarasih.org.

                       

                      Kujang

                      Kamis, 21 Februari 2013 17:11


                      KUJANG

                      Banyak sekali perdebatan mengenai kujang, kujang itu senjata atau hanya alat perkakas yang digunakan oleh masyarakat pada jaman dahulu. Mari kita bahas kujang itu seperti apa.

                      Kujang adalah sebuah senjata unik dari daerah Jawa Barat. Kujang mulai dibuat sekitar abad ke-8 atau ke-9, terbuat dari besi, baja dan bahan pamor, panjangnya sekitar 20 sampai 25 cm dan beratnya sekitar 300 gram.

                      Kujang merupakan perkakas yang merefleksikan ketajaman dan daya kritis dalam kehidupan juga melambangkan kekuatan dan keberanian untuk melindungi hak dan kebenaran. Menjadi ciri khas, baik sebagai senjata, alat pertanian, perlambang, hiasan, ataupun cindera mata.

                      Pada zaman dulu perkakas ini hanya digunakan oleh kelompok tertentu yaitu para raja, prabu anom, golongan pangiwa, panengen, golongan agamawan, para putri serta golongan kaum wanita tertentu, dan para kokolot. Tentu saja rakyat biasa tidak memiliki kujang.

                      Setiap menak (bangsawan), para pangagung (pejabat negara) sampai para kokolot, dalam pemilikan kujang, tidak sembarangan memilih bentuk. Namun, hal itu ditentukan oleh status sosialnya masing-masing. Bentuk kujang untuk para raja tidak boleh sama dengan milik balapati. Demikian pula, kujang milik balapati mesti berbeda dengan kujang miliknya barisan pratulup, dan seterusnya.

                      1. Kujang Ciung mata-9: hanya dipakai khusus oleh Raja;
                      2. Kujang Ciung mata-7: dipakai oleh Mantri Dangka dan Prabu Anom;
                      3. Kujang Ciung mata-5: dipakai oleh Girang Seurat, Bupati Pamingkis,dan para Bupati Pakuan;
                      4. Kujang Jago: dipakai oleh Balapati, para Lulugu, dan Sambilan;
                      5. Kujang Kuntul: dipakai oleh para Patih (Patih Puri, Patih Taman, Patih Tangtu Patih Jaba, dan Patih Palaju), juga digunakan oleh para Mantri (Mantri Majeuti, Mantri Paséban, Mantri Layar, Mantri Karang, dan Mantri Jero).
                      6. Kujang Bangkong: dipakai oleh Guru Sekar, Guru Tangtu, Guru Alas, Guru Cucuk;
                      7. Kujang Naga: dipakai oleh para Kanduru, para Jaro, Jaro Awara, Tangtu, Jaro Gambangan;
                      8. Kujang Badak: dipakai oleh para Pangwereg, para Pamatang, para Palongok, para Palayang, para Pangwelah, para Bareusan, parajurit, Paratulup, Sarawarsa, para Kokolot.

                      Selain diperuntukkan bagi para pejabat tadi, kujang digunakan pula oleh kelompok agama, tetapi kesemuanya hanya satu bentuk yaitu Kujang Ciung, yang perbedaan tahapannya ditentukan oleh banyaknya “mata”. Kujang Ciung bagi peruntukan Brahmesta (pendeta agung negara) yaitu yang bermata-9, sama dengan peruntukan raja. Kujang Ciung bagi para Pandita bermata-7, para Geurang Puun, Kujang Ciung bermata-5, para Puun Kujang Ciung bermata-3, para Guru Tangtu Agama dan para Pangwereg Agama Kujang Ciung bermata-1.

                      Kelompok lain yang juga mempunyai kewenangan memakai kujang yaitu para wanita Menak (Bangsawan) Pakuan dan golongan kaum wanita yang memiliki fungsi tertentu, seperti para Puteri Raja, para Puteri Kabupatian, para Ambu Sukla, Guru Sukla, para Ambu Geurang, para Guru Aés, dan para Sukla Mayang (Dayang Kaputrén). Kujang bagi kaum wanita ini, biasanya hanya terdiri dari Kujang Ciung dan Kujang Kuntul. Hal ini karena bentuknya yang langsing, tidak terlalu “galabag” (berbadan lebar”, dan ukurannya biasanya lebih kecil dari ukuran kujang kaum pria.

                      Untuk membedakan status pemiliknya, kujang untuk kaum wanita pun sama dengan untuk kaum pria, yaitu ditentukan oleh banyaknya mata, pamor, dan bahan yang dibuatnya. Kujang untuk para puteri kalangan menak Pakuan biasanya kujang bermata-5, Pamor Sulangkar, dan bahannya dari besi kuning pilihan. Sedangkan (kujang) wanita fungsi lainnya kujang bermata-3 ke bawah malah sampai Kujang Buta, Pamor Tutul, bahannya besi baja pilihan.

                      Kaum wanita Pajajaran yang bukan menak tadi, di samping menggunakan kujang ada pula yang memakai perkakas “khas wanita” lainnya, yaitu yang disebut Kudi, alat ini kedua sisinya berbentuk sama, seperti tidak ada bagian perut dan punggung, juga kedua sisinya bergerigi seperti pada kujang, ukurannya rata-rata sama dengan ukuran “Kujang Bikang” (kujang pegangan kaum wanita), langsing, panjang kira-kira 1 jengkal termasuk tangkainya, bahannya semua besi-baja, lebih halus, dan tidak ada yang memamai mata.

                      Bentuk kujang yang unik dan dinamis juga menjadi nilai seni tersendiri. Sehingga banyak juga yang menyimpan kujang sebagai benda seni. Bentuk kujang yang dinamis terwujud dalam bagian-bagiannya, yang terdiri dari:

                      1. papatuk/congo (ujung kujang yang menyerupai panah)
                      2. eluk/silih (lekukan pada bagian punggung)
                      3. tadah (lengkungan menonjol pada bagian perut)
                      4. mata (lubang kecil yang ditutupi logam emas dan perak)


                      Gambar bagian-bagian kujang

                      Visualisasi estetis kujang ditinjau dari bentuk sangat beragam terdiri dari kujang ciung, jago, kuntul, bangkong, naga, wayang, kudi dan masih ada bentuk yang lainnya. Jenis kujang terdiri dari kujang pusaka, pakarang, pangarak, pamangkas. Kujang memiliki fungsi untuk simbolisasi keagungan, untuk alat berperang, untuk alat upacara, untuk alat pertanian. Secara historis, kujang dibuat sebagai alat pertanian, namun seiring dengan perkembangan jaman kujang menjadi simbolisasi dalam pranata sosial masyarakat etnis Sunda lama.

                      -         Kujang Ciung


                      -         Kujang Jago


                      -         Kujang Kuntul



                      -         Kujang Bangkong



                      -         Kujang Naga



                      -         Kujang Wayang



                      -         Kujang Kudi


                      Kujang memiliki struktur sistem sebagai simbol dan kerangka berfikir masyarakat Sunda. Kujang sebagai simbol "tritangtu" masyarakat Sunda, sebagai filosofi dasar cara berfikir masyarakat Sunda lama "kesatuan dualistik", sebagai simbol kultur masyarakat huma / "pola tiga" dalam sistem budaya primordial Indonesia.

                      Kujang diakui sebagai senjata tradisional masyarakat Jawa Barat (Sunda) dan Kujang dikenal sebagai senjata yang memiliki nilai sakral serta mempunyai kekuatan magis. Beberapa peneliti menyatakan bahwa istilah Kujang berasal dari kata Kudihyang dengan akar kata Kudi dan Hyang. Kujang juga berasal dari kata Ujang, yang berarti manusia atau manusa. Manusia yang sakti sebagaimana Prabu Siliwangi. Pantas ageman (agama) Kujang menjadi icon Prabu Siliwangi, sebagai Raja yang tidak terkalahkan.

                      Kudi diambil dari bahasa Sunda Kuno yang artinya senjata yang mempunyai kekuatan gaib sakti, sebagai jimat, sebagai penolak bala, misalnya untuk menghalau musuh atau menghindari bahaya/penyakit. Senjata ini juga disimpan sebagai pusaka, yang digunakan untuk melindungi rumah dari bahaya dengan meletakkannya di dalam sebuah peti atau tempat tertentu di dalam rumah atau dengan meletakkannya di atas tempat tidur (Hazeu, 1904 : 405-406).

                      Sedangkan Hyang dapat disejajarkan dengan pengertian Dewa dalam beberapa mitologi, namun bagi masyarakat Sunda Hyang mempunyai arti dan kedudukan di atas Dewa, hal ini tercermin di dalam ajaran “Dasa Prebakti” yang tercermin dalam naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian disebutkan “Dewa bakti di Hyang”.


                      Secara umum, Kujang mempunyai pengertian sebagai pusaka yang mempunyai kekuatan tertentu yang berasal dari para dewa (Hyang), dan sebagai sebuah senjata, sejak dahulu hingga saat ini Kujang menempati satu posisi yang sangat khusus di kalangan masyarakat Jawa Barat (Sunda). Sebagai lambang atau simbol dengan nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, Kujang dipakai sebagai salah satu estetika dalam beberapa lambang organisasi serta pemerintahan. Disamping itu, Kujang pun dipakai pula sebagai sebuah nama dari berbagai organisasi, kesatuan dan tentunya dipakai pula oleh Pemda Propinsi Jawa Barat.


                      Gambar Pemda Jawa Barat

                      Di masa lalu Kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda karena fungsinya sebagai peralatan pertanian. Pernyataan ini tertera dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) maupun tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah diantaranya di daerah Rancah, Ciamis. Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan berladang masih dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy, Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi.

                      Dalam Pantun Bogor sebagaimana dituturkan oleh Anis Djatisunda (996-2000), kujang memiliki beragam fungsi dan bentuk. Berdasarkan fungsi, kujang terbagi empat antara lain : Kujang Pusaka (lambang keagungan dan pelindungan keselamatan), Kujang Pakarang (untuk berperang), Kujang Pangarak (sebagai alat upacara) dan Kujang Pamangkas (sebagai alat berladang). Tak bisa terbantah bahwa Kujang dengan makna yang begitu luas dan luhur seperti pembahasan di atas, keberadaannya menjadi alat pemersatu masyarakat Sunda di Jawa Barat. Bahkan Pemerintah Jawa Barat telah menggunakan Kujang sebagai simbol logo pemerintahan yang khas. Demikian juga dengan organisasi Badan Musyawarah Masyarakat Sunda, dan beberapa organisasi kedaerahan di wilayah Jawa Barat. Ciri budaya yang khas ini menjadi alat pemersatu dan identitas budaya nasional untuk mempersatukan dan memaknai perbedaan untuk membangun bangsa dan negara.

                      Jadi dapat disimpulkan bahwa pada jaman dahulu kujang memang alat untuk membela diri, dan mungkin digunakan untuk berperang. Namun memang karena kemajuan jaman sekarang ini maka kujang lebih identik dengan ciri khas dari Sunda. Sekarang ini yang menjadi prioritas utama adalah menjaga bagaimana agar kujang tetap menjadi ciri Sunda yang tetap memiliki nilai seni tanpa menjadi hal yang menakutkan. Kujang memang alat yang identik dengan Sunda Padjajaran pada masa silam. Bentuk dari kujangnya juga ditentukan bahkan ketika proses pembuatan kujang harus sesuai dengan aturan. Tidak hanya itu cara membawa kujang juga ada aturan yaitu

                      • Disoren; yaitu digantungkan pada pinggang sebelah kiri dengan menggunakan sabuk atau tali pengikat yang diikatkan ke pinggang. Yang dibawa dengan cara disoren ini, Kujang Galabag (berbadan lebar) seperti Kujang Naga dan Kujang Badak sebab kowaknya (sarungnya) cukup lebar.
                      • Ditogel; yaitu dengan cara diselipkan pada sabukdi depan perut tanpa menggunakan tali pengikat. Kujang yang dibawa dengan cara ini yaitu Kujang Bangking (kujang berbadan kecil) seperti Kujang Ciung, Kujang Kuntul, Kujang Bangkong, Kujang Jago, Kudi yang ukuran kowaknya pun lebih kecil. Demikian pula kujang yang termasuk “Kujang Ageman” (bertuah) selalu dibawa dengan cara ditogel.
                      • Dipundak; yaitu dengan cara dipikul tangkainya yang panjang, seperti membawa tombak. Yang dibawa dengan cara demikian hanya khusus Kujang Pangarak, karena memiliki tangkai panjang.
                      • Dijinjing; yaitu dengan cara ditenteng, dipegang tangkainya. Kujang yang dibawa dengan cara ini hanya Kujang pamangkas, sebab kujang ini tidak memakai sarung (kowak) alias telanjang.

                      Dewasa ini kujang di gunakan sebagai koleksi, hiasan, simbol simbol organisasi dan pemerintahan Jawa Barat, juga monumen seperti Tugu Kujang di Bogor sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Namun ada apapun dibalik kujang itu sendiri baiknya kita lihat dari nilai budaya dan seninya saja. Seni yang Tuhan berikan kepada umatNya supaya tetap dijaga dan dilestarikan.

                      Sumber :

                      http://ncep-dismember.blogspot.com/2012/04/palsafah-kujang.html

                      http://abahambu145.wordpress.com/2011/01/16/kujang/

                      http://id.wikipedia.org/wiki/Lambang_Jawa_Barat

                      http://goedangdjadoel.com/2012/02/kujang-kudi/




                       

                      Bangga Bahasa Sunda

                      Jumat, 20 Juli 2012 18:18

                      Bahasa Sunda mungkin lebih identik dengan Jawa Barat, tidak hanya itu namun memang bahasa Sunda seringkali dipakai oleh orang-orang pada umumnya.

                      Kata Sunda artinya Bagus/ Baik/ Putih/ Bersih/ Cemerlang, segala sesuatu yang mengandung unsur kebaikan, orang Sunda diyakini memiliki etos/ watak/ karakter Kasundaan sebagai jalan menuju keutamaan hidup. Watak / karakter Sunda yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas diri), dan pinter (pandai/ cerdas) yang sudah ada sejak jaman Salaka Nagara tahun 150 sampai ke Sumedang Larang Abad ke- 17, telah membawa kemakmuran dan kesejahteraan lebih dari 1000 tahun.

                      Sunda merupakan kebudayaan masyarakat yang tinggal di wilayah barat pulau Jawa dengan berjalannya waktu telah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Sebagai suatu suku, bangsa Sunda merupakan cikal bakal berdirinya peradaban di Nusantara, di mulai dengan berdirinya kerajaan tertua di Indonesia, yakni Kerajaan Salakanagara dan Tarumanegara sampai ke Galuh, Pakuan Pajajaran, dan Sumedang Larang. Kerajaan Sunda merupakan kerajaan yang cinta damai, selama pemerintahannya tidak melakukan ekspansi untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Keturunan Kerajaan Sunda telah melahirkan kerajaan- kerajaan besar di Nusantara diantaranya Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Majapahit, Kerajaan Mataram, Kerajaan Cirebon, Kerajaan Banten, dll.

                      Peta linguistik Jawa Barat

                      Variasi dalam bahasa Sunda

                      Dialek (basa wewengkon) bahasa Sunda beragam, mulai dari dialek Sunda-Banten, hingga dialek Sunda-Jawa Tengahan yang mulai tercampur bahasa Jawa. Para pakar bahasa biasanya membedakan enam dialek yang berbeda. Dialek-dialek ini adalah:

                      • Dialek Barat
                      • Dialek Utara
                      • Dialek Selatan
                      • Dialek Tengah Timur
                      • Dialek Timur Laut
                      • Dialek Tenggara

                      Dialek Barat dipertuturkan di daerah Banten selatan. Dialek Utara mencakup daerah Sunda utara termasuk kota Bogor dan beberapa bagian Pantura. Lalu dialek Selatan adalah dialek Priangan yang mencakup kota Bandung dan sekitarnya. Sementara itu dialek Tengah Timur adalah dialek di sekitar Majalengka. Dialek Timur Laut adalah dialek di sekitar Kuningan, dialek ini juga dipertuturkan di beberapa bagian Brebes,cilacap dan perbatasan purwokerto Jawa Tengah. Dan akhirnya dialek tenggara adalah dialek sekitar Ciamis.

                      Bahasa Sunda Kuna adalah bentuk bahasa Sunda yang ditemukan pada beberapa catatan tertulis, baik di batu (prasasti) maupun lembaran daun kering (lontar). Tidak diketahui apakah bahasa ini adalah dialek tersendiri atau merupakan bentuk yang menjadi pendahulu bahasa Sunda modern. Sedikitnya literatur berbahasa Sunda menyulitkan kajian linguistik varian bahasa ini.

                       

                      Tulisan sunda yang ada di prasasti

                      Sejarah dan penyebaran

                      Bahasa Sunda terutama dipertuturkan di sebelah barat pulau Jawa, di daerah yang dijuluki Tatar Sunda/Pasundan. Namun demikian, bahasa Sunda juga dipertuturkan di bagian barat Jawa Tengah, khususnya di Kabupaten Brebes dan Cilacap. Banyak nama-nama tempat di Cilacap yang masih merupakan nama Sunda dan bukan nama Jawa seperti Kecamatan Dayeuhluhur, Cimanggu, dan sebagainya.

                       

                      Gambar tulisan Sunda

                      Selain itu menurut beberapa pakar bahasa Sunda sampai sekitar abad ke-6 wilayah penuturannya sampai di sekitar Dataran Tinggi Dieng di Jawa Tengah, berdasarkan nama "Dieng" yang dianggap sebagai nama Sunda (asal kata dihyang yang merupakan kata bahasa Sunda Kuna). Seiring mobilisasi warga suku Sunda, penutur bahasa ini kian menyebar bahkan sampai ke luar negeri. Misalnya, di Lampung, di Jambi, Riau dan Kalimantan Selatan banyak sekali warga Sunda menetap di daerah baru tersebut.

                      Fonologi

                      Saat ini Bahasa Sunda ditulis dengan Abjad Latin dan sangat fonetis. Ada lima suara vokal murni (a, é, i, o, u), dua vokal netral, (e (pepet) dan eu (ɤ), dan tidak ada diftong. Fonem konsonannya ditulis dengan huruf p, b, t, d, k, g, c, j, h, ng, ny, m, n, s, w, l, r, dan y.

                      Konsonan lain yang aslinya muncul dari bahasa Indonesia diubah menjadi konsonan utama: f -> p, v -> p, sy -> s, sh -> s, z -> j, and kh -> h.

                      Berikut adalah fonem dari bahasa Sunda dalam bentuk tabel. Pertama vokal disajikan. (Silahkan isi sesuai keinginan)

                      Vokal


                      Depan

                      Madya

                      Belakang

                      Tertutup

                      i:


                      u:

                      Tengah

                      e

                      ə

                      o

                      Hampir Terbuka

                      (ɛ)

                      ɤ

                      (ɔ)

                      Terbuka

                      a



                      Dan di bawah ini adalah tabel konsonan.

                      Konsonan


                      Bibir

                      Gigi

                      Langit2
                      keras

                      Langit2
                      lunak

                      Celah
                      suara

                      Sengau

                      m

                      n

                      ɲ

                      ŋ


                      Letap

                      p b

                      t  d

                      c  j

                      k  g

                      ?

                      Desis


                      s



                      h

                      Getar/sisi


                      l  r




                      hampiran

                      w


                      j









                      Sistem penulisan

                      Huruf Besar

                      Huruf Kecil

                      Nama

                      Huruf Besar

                      Huruf Kecil

                      Nama

                      A

                      a


                      M

                      m


                      B

                      b


                      N

                      n


                      C

                      c


                      Ng

                      ng


                      D

                      d


                      Ny

                      ny


                      E

                      e


                      O

                      o


                      É

                      é


                      P

                      p








                      Eu

                      eu


                      Q

                      q


                      G

                      g


                      R

                      r


                      H

                      h


                      S

                      s


                      I

                      i


                      T

                      t


                      J

                      j


                      U

                      u


                      K

                      k


                      W

                      w


                      L

                      l


                      Y

                      y


                      Aksara Sunda

                      Ha

                      Na

                      Ca

                      Ra

                      Ka

                      Da

                      Ta

                      Sa

                      Wa

                      La

                      Pa

                      Dha

                      Ja

                      Ya

                      Nya

                      Ma

                      Ga

                      Ba

                      Tha

                      Nga


                       

                      Gambar aksara sunda vokal, konsonan dan angka


                      Undak-usuk

                      Karena pengaruh budaya Jawa pada masa kekuasaan kerajaan Mataram-Islam, bahasa Sunda - terutama di wilayah Parahyangan - mengenal undak-usuk atau tingkatan berbahasa, mulai dari bahasa halus, bahasa loma/lancaran, hingga bahasa kasar. Namun, di wilayah-wilayah pedesaan/pegunungan dan mayoritas daerah Banten, bahasa Sunda loma (bagi orang-orang daerah Bandung terdengar kasar) tetap dominan. Di bawah ini disajikan beberapa contoh.

                      Tempat

                      Bahasa Indonesia

                      Bahasa Sunda
                      (normal)

                      Bahasa Sunda
                      (sopan/lemes)

                      di atas ..

                      di luhur ..

                      palih luhur ..

                      di belakang ..

                      di tukang ..

                      palih pengker ..

                      di bawah ..

                      di handap ..

                      palih handap ..

                      di dalam ..

                      di jero ..

                      palih lebet ..

                      di luar ..

                      di luar ..

                      palih luar ..

                      di samping ..

                      di sisi ..

                      palih gigir ..

                      di antara ..
                      dan ..

                      di antara ..
                      jeung ..

                      antawis ..
                      sareng ..

                      Waktu

                      Bahasa Indonesia

                      Bahasa Sunda
                      (normal)

                      Bahasa Sunda
                      (sopan/lemes)

                      sebelum

                      saacan, saencan, saméméh

                      sateuacan

                      sesudah

                      sanggeus

                      saparantos

                      ketika

                      basa

                      nalika

                      Besok

                      Isukan

                      Enjing

                      Lain Lain

                      Bahasa Indonesia

                      Bahasa Sunda
                      (normal)

                      Bahasa Sunda
                      (sopan/lemes)




                      lapar

                      Tina

                      Tina

                      Ada

                      Aya

                      Nyondong

                      Tidak

                      Embung

                      Alim




                      Saya

                      Urang

                      Abdi/sim kuring/pribados

                      Bilangan dalam bahasa Sunda

                      Bilangan

                      Lemes

                      1


                      hiji

                      2


                      dua

                      3


                      tilu

                      4


                      opat

                      5


                      lima

                      6


                      genep

                      7


                      tujuh

                      8


                      dalapan

                      9


                      salapan

                      10


                      sa-puluh

                      11


                      sa-belas

                      12


                      dua belas

                      13


                      tilu belas

                      ..


                      ..

                      20


                      dua puluh

                      21


                      dua puluh hiji

                      22


                      dua puluh dua

                      ..


                      ..

                      100


                      sa-ratus

                      101


                      sa-ratus hiji

                      ..


                      ..

                      200


                      dua ratus

                      201


                      dua ratus hiji

                      ..


                      ..

                      1.000


                      sa-rebu

                      ..


                      ..

                      1.000.000


                      sa-juta

                      ..


                      ..




                      1.000.000.000


                      sa-miliar

                      ..


                      ..

                      1.000.000.000.000


                      sa-triliun

                      ..


                      ..




                      1.000.000.000.000.00


                      sa-biliun

                      0



                      Selain itu sudah di buat dalam bentuk peraturan untuk bahasa Sunda yaitu :

                      PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG

                      NO 9 TAHUN 2012
                      TENTANG PENGGUNAAN, PEMELIHARAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA SASTRA DAN AKSARA SUNDA.

                      BAB VI

                      Pasal 10 huruf b

                      “Menetapkan Hari Rabu Sebagai Hari berbahasa Sunda Dalam Setiap Kegiatan Pendidikan, Pemerintahan, dan Kemasyarakatan”.

                      DPRD Kota Bandung telah mensahkan Peraturan Daerah (Perda) Kota Bandung tentang Penggunaan dan Pelestarian Bahasa, Sastra,dan Aksara Sunda, yang salah satu poinnya adalah mewajibkan warga Kota Bandung untuk menggunakan bahasa Sunda setiap hari Rabu.Konon, akan ada pengawasan yang dilakukan sejumlah kalangan berkaitan dengan implementasi Perda terbaru Kota Bandung ini.

                      Menurut Ketua Panitia Khusus (Pansus) Perda Bahasa Sunda Tatang Suratis, bahasa Sunda di Kota Bandung sudah jarang digunakan, makanya khawatir punah dibuat Perda Bahasa Sunda. Dan untuk memelihara budaya leluhur yang menciptakan bahasa dan aksara Sunda.

                      Dalam Perda Bahasa Sunda diatur diantaranya setiap hari Rabu seluruh warga Kota Bandung baik pejabat maupun masyarakat wajib menggunakan bahasa Sunda. Di sekolah pun pelajaran bahasa sunda wajib diadakan kembali.

                      Bahasa Sunda pada jaman sekarang ini tidak hanya dipakai oleh orang-orang tua, namun anak-anak muda pun tidak gengsi dalam memakai bahasa maupun aksara sunda. Tulisan-tulisan sunda sekarang banyak ditemukan hampir dimana-mana. Sudah tidak malu lagi untuk menggunakan bahasa sunda. Namun memang bahasa sunda itu terkenal dengan tingkatan bahasanya, yang mungkin dianggap sulit oleh kebanyakan orang. Walaupun demikian diharapkan bahasa sunda tetap di sukai dan tetap ada di tengah masyarakat, karena bahasa sunda merupakan warisan dari nenek moyang untuk kita dan generasi selanjutnya.

                      Hayu urang budayakeun nganggo basa sunda nu sae kanggo ngajaga eta basa meh tetep aya di jaman kiwari… derr ah dulur-dulur….

                      Sumber :

                      http://thearoengbinangproject.com/2010/06/prasasti-batutulis-bogor/

                      http://wacananusantara.org/aksara-sunda-ngalagena/

                      http://sumedangonline.com/basa-sunda-urang-sunda/4686/

                      http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Sunda

                      http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Sunda

                      http://www.infobdg.com/v2/hayu-urang-ngamumule-bahasa-sunda/


                       

                      Festival Alimpaido Bangun Kebersamaan di Majalengka

                      Selasa, 31 May 2011 11:46

                      Selasa tanggal 24 Mei 2011 di kabupaten Majalengka menggelar festival Alimpaido “Kaulinan Budak baheula” di Alun-alun Pujasera Majalengka. Hal ini merupakan salah satu cara untuk melestarikan budaya lokal. Acara tersebut diikuti oleh 32 kontingen dari seluruh kecamatan, dengan Sembilan jenis kaulinan yang dilombakan. Bapak Bupati Majalengka Sutrisno membuka acara dengan permainan “sorodot gaplok”, Bapak Sutrisno berkata” adanya kegiatan ini, diharapkan dapat melestarikan dan mengembangkan budaya lokal zaman dulu”.

                      Baca Selanjutnya: Festival Alimpaido Bangun Kebersamaan di Majalengka

                       

                      Kingkilaban di Alengkadireja

                      Selasa, 31 May 2011 11:35

                      Bandung mengadakan festival yaitu “Bandung Wayang Festival 2011” yang digelar sejak tanggal 22 April 2011 sampai dengan 30 April 2011. Festival rampak dalang ini diikuti oleh 40 dalang didikan dari dalang bapak Tantan Sugandi dengan cerita yang diambil adalah “Kingkilaban di Alengkadirdja”.

                      Baca Selanjutnya: Kingkilaban di Alengkadireja

                       
                      The secret of any online business is web hosting. Select the best hosting service reading offered by justhost.
                      Hak Cipta © 2014 Sanggar Mekar Asih. Dilindungi oleh Undang-undang
                      Joomla! adalah Perangkat Lunak Bebas yang diterbitkan di bawah Lisensi GNU/GPL
                      Joomla Template designed by DragonMage