Awal

Berita Terbaru

Kuda Renggong
25/07/2014
article thumbnail

Orang – orang lari keluar rumah menuju jalan raya, ternyata banyak orang sudah berkumpul. Wah ada apa ini? Kebakaran atau demo?  Ternyata ada Kuda Renggong.
Apa itu kuda renggong, hayu ah kita [ ... ]


Berita lainnya

Fitur Terbaru

  • Album Gentra Kahuripan
    Album Gentra Kahuripan adalah album soundtrack dari acara TV Gentra Kahuripan yang memuat lagu-lagu pujian dalam Bahasa Sunda.
  • Lembur Abah
    Lembur Abah (Kampung Halaman Bapak) adalah acara TV rohani berbasis sinetron dalam Bahasa Sunda.
  • Album Sakola Minggu
    Album Sakola Minggu merupakan kumpulan lagu-lagu Sekolah Minggu untuk anak-anak dalam Bahasa Sunda.
  • Gentra Kahuripan
    Gentra Kahuripan (Panggilan Kehidupan) adalah sebuah acara TV rohani berbasis Talk Show dalam Bahasa Sunda.

Sanggar Mekar Asih - Seni Budaya Sunda

Kuda Renggong

Orang – orang lari keluar rumah menuju jalan raya, ternyata banyak orang sudah berkumpul. Wah ada apa ini? Kebakaran atau demo?  Ternyata ada Kuda Renggong.


Apa itu kuda renggong, hayu ah kita bahas.

K

uda renggong adalah suatu kesenian khas masyarakat Sunda (Jawa Barat) yang menampilkan 1-4 ekor kuda yang dapat menari mengikuti irama musik. Tentu saja tidak wajib banyak kuda, terkadang satu ekor kuda pun bisa. Di atas kuda-kuda tersebut biasanya duduk seorang anak yang baru saja dikhitan atau seorang tokoh masyarakat. Kata renggong adalah metatesis dari ronggeng yang artinya gerakan tari berirama dengan ayunan (langkah kaki) yang diikuti oleh gerakan kepala dan leher.


Kesenian kuda renggong atau yang dahulu biasa disebut kuda igel karena bisa ngigel (menari) ini konon tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat Desa Cikurubuk, Kecamatan Buah Dua, Kabupaten Sumedang. Waktu itu (sekitar tahun 1880-an) ada seorang anak laki-laki bernama Sipan yang mempunyai kebiasaan mengamati tingkah laku kuda-kuda miliknya yang bernama si Cengek dan si Dengkek. Dari pengamatannya itu, ia menyimpulkan bahwa kuda juga dapat dilatih untuk mengikuti gerakan-gerakan yang diinginkan oleh manusia.


Selanjutnya, ia pun mulai melatih si Cengek dan si Dengkek untuk melakukan gerakan-gerakan seperti: lari melintang (adean), gerak lari ke pinggir seperti ayam yang sedang birahi (beger), gerak langkah pendek namun cepat (torolong), melangkah cepat (derep atau jogrog), gerakan kaki seperti setengah berlari (anjing minggat), dan gerak kaki depan cepat dan serempak (congklang) seperti gerakan yang biasa dilakukan oleh kuda pacu. Cara yang digunakan untuk melatih kuda agar mau melakukan gerakan-gerakan tersebut adalah dengan memegang tali kendali kuda dan mencambuknya dari belakang agar mengikuti irama musik yang diperdengarkan. Latihan dilakukan selama tiga bulan berturut-turut hingga kuda menjadi terbiasa dan setiap mendengar musik pengiring ia akan menari dengan sendirinya.

Melihat keberhasilan Sipan dalam melatih kuda-kudanya ‘ngarenggong’ membuat Pangeran Aria Surya Atmadja yang waktu itu menjabat sebagai Bupati Sumedang menjadi tertarik dan memerintahkannya untuk melatih kuda-kudanya yang didatangkan langsung dari Pulau Sumbawa. Dan, dari melatih kuda-kuda milik Pangeran Aria Surya Atmadja inilah akhirnya Sipan dikenal sebagai pencipta kesenian kuda renggong.

Dalam perkembangan selanjutnya, kesenian kuda renggong bukan hanya menyebar ke daerah-daerah lain di Kabupaten Sumedang, melainkan juga ke kabupaten-kabupaten lain di Jawa Barat, seperti Kabupaten Bandung dan Purwakarta. Selain menyebar ke beberapa daerah, kesenian ini juga mengalami perkembangan, baik dalam kualitas permainannya maupun waditra dan lagu-lagu yang dimainkan. Di Kabupaten Sumedang kualitas permainan kuda renggong diukur menurut standar Persatuan Kuda Sumedang (PKS) yang dibagi menjadi tiga kelas, yaitu: (1) kuda kualitas baik dan pernah menjadi juara dalam festival kuda renggong tingkat kabupaten; (2) kualitas kuda tingkat pertengahan (kualitas pasaran/pasaran mentas); dan (3) kuda renggong yang masih dalam tahap belajar (kuda baru).


Pemain
Para pemain kuda renggong umumnya adalah laki-laki dewasa yang tergabung dalam sebuah kelompok yang terdiri atas: seorang pemimpin kelompok (pelatuk), beberapa orang pemain waditra, dan satu atau dua orang pemain silat. Para pemain ini adalah orang-

orang yang mempunyai keterampilan khusus, baik dalam menari maupun memainkan waditra. Keterampilan khusus itu perlu dimiliki oleh setiap pemain karena dalam sebuah pertunjukan kuda renggong yang bersifat kolektif diperlukan suatu tim yang solid agar semua gerak tari yang dimainkan dapat selaras dengan musik yang dimainkan oleh para pemain waditra.


Tempat dan Peralatan Permainan
Kesenian kuda renggong ini umumnya ditampilkan pada acara:

  1. Khitanan
  2. Menyambut tamu agung
  3. Pelantikan kepala desa
  4. Perayaan hari kemerdekaan dan lain sebagainya.

Biasanya dilakukan pada siang hari dan berkeliling kampung. Durasi sebuah pementasan kuda renggong biasanya memakan waktu cukup lama, bergantung dari luas atau tidaknya kampung yang akan dikelilingi.

Peralatan yang digunakan dalam permainan kuda renggong adalah:


(1)  satu sampai empat ekor kuda yang sudah terlatih beserta perlengkapannya yang terdiri dari:

  1. sela (tempat atau alat untuk duduk penunggang kuda)
  2. seser (pembalut kepala kuda)
  3. sanggawedi (pijakan kaki bagi penunggang)
  4. apis buntut (tali penahan sela yang dihubungkan dengan pangkal ekor kuda)
  5. eles (tali kemudi kuda)
  6. kadali (besi yang dipasang pada mulut kuda untuk mengikatkan tali kendali)
  7. ebeg (hiasan sela)
  8. sebrak (lapisan di bawah sela agar punggung kuda tidak luka/lecet)
  9. andong (sabuk yang diikatkan ke bagian perut kuda sebagai penguat sela agar tidak mudah lepas dari punggung kuda);

(2)  seperangkat waditra yang terdiri dari:


  • dua buah kendang besar (kendang indung dan kendang anak),
  • sebuah terompet
  • dua ancak ketuk (bonang)
  • sebuah bajidor, dua buah gong (besar dan kecil)
  • satu set kecrek
  • genjring
  • terbang atau dulang

(3)  busana pemain kuda renggong yang dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu

-          busana juru pengrawit (wiyaga)

Busana juru pengrawit terdiri dari: baju seragam biru lengan panjang dan berstrip putih, celana panjang, tutup kepala iket loher, dan sandal.

-          busana pemain silat (pengatik)

busana pemain silat terdiri dari: celana pangsi berwarna hitam, tutup kepala iket loher, dan ikat pinggang kain berwarna merah.

Akan tetapi seiring dengan perkembangan jaman tentu saja ada beberapa perubahan dalam soal pakaian/busana.

Pertunjukan Kuda Renggong
Pertunjukan kuda renggong diawali dengan kata-kata sambutan yang dilakukan oleh panitia hajat. Setelah itu, barulah anak yang telah dikhitan atau tokoh masyarakat yang akan diarak dipersilahkan untuk menaiki kuda renggong. Selanjutnya, alat pengiring ditabuh dengan membawakan lagu Kembang Gadung dan Kembang Beureum yang berirama dinamis sebagai tanda dimulainya pertunjukan.


Setelah anak yang akan diarak siap, maka sang pemimpin (pelatuk) akan mulai memberikan aba-aba agar pemain silat (pengatik) dan sang kuda mulai melakukan gerakan-gerakan tarian secara serempak dan bersamaan. Tarian yang biasa dimainkan oleh pesilat bersama kuda renggong tersebut adalah tarian “perkelahian” yang terjadi diantara mereka, yang diantaranya adalah: gerakan kuda berdiri di atas kedua kaki belakangnya. Sementara kaki depan bergerak seperti mencakar pesilat, gerakan-gerakan yang seolah-olah menginjak perut pesilat, gerakan menginjak kepala pesilat menggunakan kaki depan, dan gerakan-gerakan pesilat saat beraksi di sekitar punggung kuda. Sebagai catatan, gerakan-gerakan yang dilakukan oleh sang kuda tidak begitu tinggi karena di atas punggungnya terdapat anak yang dikhitan atau pejabat yang menungganginya.

Sedangkan, lagu-lagu yang dimainkan oleh para wiyaga untuk mengiringi tarian biasanya diambil dari kesenian Jaipong, Ketuk Tilu, dan Joged seperti: Paris Wado, Rayak-rayak, Botol Kecap, Keringan, Kidung, Titipatipa, Gondang, Kasreng, Gurudugan, Mapay Roko, Kembang gadung, Kangsring, Buah Kawung, Gondang, Tenggong Petit, Sesenggehan, Badudud, Tunggul Kawing, Samping Butut, Sireum Beureum, Manuk Dadali, Adem Ayem, Daun Puspa, Solempang Koneng, Reumis Janari, Daun Pulus, dan lagu Selingan (Siyur, Tepang Sono, Awet Rajet, Serat Salira, Madu dan Racun, Pria Idaman, Goyang Dombret, Warudoyong dan lain sebagainya).

Pertunjukan kuda renggong ini dilakukan sambil mengelilingi kampung atau desa, hingga akhirnya kembali lagi ke tempat semula. Setelah itu, diadakan acara saweran yang didahului oleh pembacaan doa yang dipimpin oleh juru sawer (ahli nyawer) dengan menggunakan sesajen yang berupa: nasi tumpeng (congot), panggang daging, panggang ayam (bakakak), sebuah tempurung kelapa yang berisi beras satu liter, irisan kunyit, dan kembang gula. Dan, setelah acara saweran yang dilakukan dengan menaburkan uang logam dan beras putih, maka pertunjukan pun berakhir.

Ada nilai estetika yang terkandung dalam kesenian kuda renggong ini. Namun demikian, jika dicermati secara mendalam kuda renggong tidak hanya mengandung nilai estetika semata, tetapi ada nilai-nilai lain yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu antara lain adalah kerja sama, kekompakan, ketertiban, dam ketekunan. Nilai kerjasama terlihat dari adanya kebersamaan dalam melestarikan warisan budaya para pendahulunya, rasa kebersamaan menjaga agar warisan budaya tidak hilang digerus oleh jaman ataupun diambil bangsa lain. Nilai kekompakan dan ketertiban tercermin dalam suatu pementasan yang dapat berjalan secara lancar. Nilai kerja keras dan ketekunan tercermin dari penguasaan gerakan-gerakan tarian.

( Informasi diatas diambil dari berbagai sumber yaitu www.Flixya.com , http://uun-halimah.blogspot.com/2008/12/kuda-renggong-kesenian-tradisional.html , http://asepgorbachev.files.wordpress.com/2011/02/ftn2010m.jpg?w=300&h=199, http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/50292_125284160844741_6695_n.jpg) http://www.pasundan.info/art/kuda-renggong.html

 
 

Halaman 1 dari 15

«MulaiSebelumnya12345678910SelanjutnyaAkhir»
The secret of any online business is web hosting. Select the best hosting service reading offered by justhost.
Hak Cipta © 2014 Sanggar Mekar Asih. Dilindungi oleh Undang-undang
Joomla! adalah Perangkat Lunak Bebas yang diterbitkan di bawah Lisensi GNU/GPL
Joomla Template designed by DragonMage